Ketika Rasulullah SAW berusia sekitar tiga tahun, Halimah As-Sa’diyah, ibu susu beliau, datang ke Mekkah untuk menemui ibunda Rasulullah, Aminah. Tujuannya adalah untuk meminta izin agar ia bisa merawat Rasulullah selama dua hingga tiga tahun lagi. Ia beralasan bahwa perpanjangan waktu tersebut akan bermanfaat agar Rasulullah semakin fasih dalam berbahasa Arab. Mendengar penjelasan itu, Aminah pun mengizinkannya.

Keesokan harinya, saat Rasulullah sedang bermain dan menggembala bersama saudara-saudara sesusuannya, tiba-tiba turun dua orang lelaki dari langit. Kedua orang itu mendekati Rasulullah, lalu membawanya ke suatu tempat. Di sana, mereka membaringkan tubuh beliau dan membelah dada beliau hingga ke bagian pusar. Mereka mengeluarkan hati Rasulullah dan mencucinya dengan air.

Melihat kejadian tersebut, saudara-saudara sesusuan Rasulullah ketakutan dan berlari pulang untuk memberi tahu Halimah. Mereka datang sambil menangis dan berteriak, membuat Halimah terkejut. Ia pun bertanya kepada salah satu anak tentang apa yang sebenarnya terjadi. Anak itu mengatakan bahwa Rasulullah telah dibunuh. Ketika Halimah menanyakan kepada anak lainnya, ia juga memberikan jawaban yang sama.

Panik dan diliputi kecemasan, Halimah segera memanggil suaminya dan menyampaikan kekhawatirannya. Ia menangis dan mengira bahwa Rasulullah benar-benar telah terbunuh. Mereka berdua langsung mencari Rasulullah. Tidak lama kemudian, mereka melihat Rasulullah berjalan mendekat ke arah mereka. Halimah sangat lega, ia berlari dan memeluk Rasulullah sambil menangis haru.

Keesokan harinya, Halimah memutuskan untuk mengembalikan Rasulullah kepada ibunya di Mekkah. Sesampainya di rumah Aminah, Halimah menyerahkan kembali Rasulullah beserta barang-barangnya. Hal itu membuat Aminah bingung karena baru kemarin Halimah meminta perpanjangan waktu untuk merawat Rasulullah.

Aminah pun bertanya tentang alasan Halimah mengembalikan Rasulullah secara tiba-tiba. Halimah kemudian menjelaskan bahwa kemarin Rasulullah mengalami kejadian luar biasa, yaitu dadanya dibelah oleh dua orang lelaki. Ia khawatir jika kejadian semacam itu terulang dan Rasulullah terluka saat masih tinggal bersamanya, maka ia yang harus menanggung tanggung jawab. Karena itu, ia merasa lebih aman jika Rasulullah kembali tinggal bersama ibunya. Sejak saat itu, Rasulullah tinggal bersama Aminah di Mekkah, tepatnya di Bani Hasyim.