Bentuk diturunkannya wahyu sangat beragam, di antaranya adalah diturunkan dalam bentuk mimpi, dan diturunkan secara sadar atau bukan dalam keadaan mimpi. Wahyu juga dibedakan menjadi beberapa jenis, seperti wahyu ilham, yaitu wahyu yang diturunkan secara langsung oleh Allah ke dalam hati Nabi, serta wahyu Al-I’lam ar-Rasul, yaitu wahyu yang disampaikan melalui perantara malaikat, khususnya Malaikat Jibril. Rasulullah menjelaskan bahwa langit dipenuhi oleh para malaikat, dan Jibril adalah salah satu malaikat utama yang berperan sebagai penyampai wahyu, layaknya seorang sekretaris Allah. Jibril sering datang ke bumi dalam wujud manusia yang tampan, rapi, dan elok, dan ia kerap menyerupai sahabat Nabi yang bernama Dihyah. Namun, Jibril juga pernah datang dalam wujud aslinya sebagai malaikat. Allah menciptakan Jibril dengan bentuk yang sangat besar dan memiliki 600 sayap di kedua sisinya. Ketika Nabi Muhammad S.A.W. meminta untuk melihat Jibril dalam wujud malaikat, Allah pun mengizinkannya. Ketika Jibril membentangkan sayap-sayapnya, seisi bumi menjadi gelap gulita karena besarnya ukuran dan cahaya malaikat tersebut. Jika Jibril datang dalam bentuk manusia, maka ia dapat dilihat oleh siapa pun, namun jika datang dalam wujud malaikat, maka hanya Nabi Muhammad S.A.W. yang dapat melihatnya.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. adalah lima ayat dari Surah Al-‘Alaq. Ketika diperintahkan untuk menyampaikan peringatan, golongan pertama yang diberi peringatan oleh Rasul adalah kerabat, saudara, dan teman-teman terdekatnya. Setelah masuk Islam, Abu Bakar selalu menemani Rasulullah dalam berdakwah. Pada masa awal Islam, ada seorang pemuda bernama Al-Arqam yang mewarisi rumah dari ayahnya. Rumah tersebut cukup luas untuk menampung orang-orang Islam yang ingin tinggal dan belajar. Al-Arqam pun mendatangi Nabi Muhammad dan berkata, “Jika engkau ingin menampung para sahabat dan orang-orang Muslim, maka datanglah ke rumahku.” Nabi pun menyetujuinya, dan sejak saat itu rumah Al-Arqam dijadikan tempat berkumpulnya kaum Muslimin. Rumah tersebut kemudian dikenal sebagai sekolah atau universitas pertama dalam Islam, dan hingga kini dikenal dengan nama “Baitul Arqam”.

Suatu ketika, Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak berdakwah secara terang-terangan?” Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad untuk memulai dakwah secara terbuka. Di antara pemimpin Quraisy yang menentang dakwah Nabi adalah paman beliau sendiri, yaitu Abu Lahab.