Rasulullah adalah orang pertama yang menyampaikan dakwah Islam, kemudian disusul oleh Abu Bakar yang menjadi sahabat pertama beliau. Suatu hari, ketika Abu Bakar sedang berdakwah, ia dipukul hingga pingsan oleh Abu Jahal. Setelah itu, ia dibawa pulang dan dirawat oleh ibunya. Saat siuman, Abu Bakar tidak khawatir dengan dirinya, tetapi justru memikirkan keadaan Rasulullah. Ibunya lalu pergi untuk memastikan keadaan Rasulullah, kemudian kembali dengan kabar bahwa beliau dalam keadaan baik.

Meski sudah diberi tahu, Abu Bakar tetap bersikeras ingin melihat Rasulullah dengan matanya sendiri. Ia menolak makan sebelum bertemu langsung dengan Nabi. Akhirnya ibunya membawanya ke rumah Rasulullah. Sesampainya di sana, Abu Bakar merasa sangat bahagia saat melihat Rasul dalam keadaan sehat. Nabi memeluknya dengan penuh kasih sayang dan menanyakan keadaannya. Abu Bakar menjawab bahwa ia baik-baik saja, lalu meminta agar Rasul mengajak ibunya untuk masuk Islam.

Salah satu tokoh yang menjaga Rasulullah adalah Hamzah. Hamzah dikenal memiliki hobi berburu, dan setelah berburu ia biasa memutari Ka’bah. Suatu hari, budaknya yang bernama Abdullah mendengar bahwa Rasul sedang diejek oleh Abu Jahal. Abdullah pun segera memberitahu Hamzah, hingga membuatnya marah besar. Dengan membawa busur panah, Hamzah mendatangi Abu Jahal dan memukulkannya kepada pemimpin Quraisy itu. Orang Quraisy sempat ingin membela Abu Jahal, namun ketika melihat yang mereka hadapi adalah Hamzah, mereka mundur dengan gentar.

Selain Hamzah, paman Nabi yaitu Abu Thalib juga sangat melindungi Rasulullah. Pernah suatu kali kaum Quraisy mendatangi rumah Abu Thalib dengan membawa seorang anak lelaki terbaik dari Makkah. Mereka menawarkan untuk menukar anak itu dengan Nabi Muhammad, namun tawaran tersebut ditolak mentah-mentah. Abu Thalib tetap teguh menjaga keponakannya. Bahkan, ketika Rasulullah melantunkan ayat Al-Qur’an di dekat Ka’bah, banyak orang yang diam-diam keluar pada malam hari untuk mendengarkan bacaan beliau, meski mereka memusuhi Islam.

Sementara itu, Umar bin Khattab pada awalnya sangat membenci Rasulullah dan Islam. Suatu hari ia berniat membunuh Nabi yang sedang berada di rumah Arqam bin Abi Arqam. Namun langkahnya berubah arah menuju rumah saudarinya, Fatimah. Dari luar rumah, Umar mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Ia masuk dengan amarah, menampar Fatimah hingga berdarah. Tetapi kemudian ia menyesal, lalu membersihkan luka saudarinya. Umar pun meminta lembaran Al-Qur’an yang dibaca, dan setelah didengarkan, hatinya mulai tersentuh.

Surat Thaha yang didengarnya membuat Umar semakin luluh. Ia kemudian mandi untuk menyucikan diri, lalu membawa lembaran ayat tersebut. Dengan tekad bulat, ia pergi menuju rumah Arqam bin Abi Arqam. Di depan pintu, para sahabat merasa cemas karena mereka tahu betapa kerasnya Umar. Mereka pun bersepakat, jika Umar datang dengan niat baik akan diterima, namun bila datang dengan niat buruk maka akan dilawan. Saat Umar masuk, Hamzah menahannya. Namun, begitu mendengar pengakuan Umar tentang kebenaran Islam, pedangnya terjatuh, dan ia langsung mengucapkan syahadat.