Setelah peristiwa pembelahan dada, Nabi Muhammad SAW mengalami perubahan yang luar biasa. Dua manfaat besar yang diperoleh Nabi dari peristiwa tersebut adalah: pertama, beliau tumbuh lebih besar dan sehat dibandingkan anak-anak seusianya; kedua, hatinya dipenuhi dengan iman, akhlak yang mulia, akal yang cerdas, dan pemikiran yang dewasa. Meskipun usianya baru sekitar 4–6 tahun, Nabi Muhammad sudah menjadi kepala rumah tangga dan dihormati oleh banyak orang. Bahkan, beliau pernah duduk di samping kakeknya, Abdul Muthalib, padahal biasanya Abdul Muthalib tidak membawa cucu-cucunya duduk bersamanya.

Ketika Nabi Muhammad berusia 6 tahun, beliau meminta ibunya, Aminah, untuk menziarahi makam ayahnya. Aminah menyetujui permintaan tersebut, dan dalam perjalanan menuju Yastrib (Madinah), Aminah memperkenalkan Nabi kepada paman-pamannya yang tinggal di sana. Namun, dalam perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit dan wafat di sebuah tempat bernama Abwa. Nabi Muhammad sempat menetap di Abwa selama tiga hari sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Makkah seorang diri. Setelah itu, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, selama dua tahun hingga Abdul Muthalib wafat. Pengasuhan Nabi kemudian dilanjutkan oleh pamannya, Abu Thalib.

Abu Thalib menghadapi dua masalah besar saat merawat Nabi Muhammad: beliau memiliki banyak anak dan hidup dalam kondisi ekonomi yang kurang mampu. Namun, kehadiran Nabi membawa keberkahan bagi rumah tangganya. Makanan yang biasanya cepat habis menjadi cukup, dan Nabi selalu bangun dengan rambut yang rapi dan wajah yang bersih. Pada usia 8 tahun, Nabi Muhammad mulai bekerja sebagai penggembala kambing. Uang hasil kerjanya diberikan kepada istri Abu Thalib, anak-anaknya, dan juga kepada fakir miskin. Beliau menjalani pekerjaan ini selama dua tahun.

Saat Nabi berusia 12 tahun, beliau ikut Abu Thalib dalam perjalanan dagang ke Syam. Dalam perjalanan tersebut, mereka singgah di dekat sebuah gereja yang dihuni oleh seorang pendeta bernama Bahirah. Bahirah melihat tanda-tanda kenabian pada Nabi Muhammad. Ia memanggil seluruh rombongan untuk masuk ke dalam, namun Nabi saat itu masih di luar. Setelah Nabi dipanggil masuk, Bahirah mengenali ciri-ciri kenabian dalam diri beliau dan mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Bahirah memperingatkan Abu Thalib untuk tidak mengungkapkan hal ini kepada kaum Yahudi karena mereka bisa berniat membunuh Nabi jika mengetahuinya, dan ia menyarankan agar mereka tidak melanjutkan perjalanan ke Syam.

Pada usia 14 tahun, terjadi Perang Fijar antara kaum Quraisy dan kaum Hawaazin. Nabi Muhammad tidak menyukai peperangan, namun tetap ikut membantu dengan cara mengumpulkan anak-anak panah tanpa membunuh siapa pun. Perang ini berlangsung selama empat tahun dan akhirnya dihentikan melalui sebuah perjanjian damai, yang disebut Perjanjian Hilf al-Fudhul, yang menyatakan bahwa tidak boleh ada perang di tanah Haram. Perjanjian ini membuat Makkah menjadi tempat yang aman dan ramai dikunjungi orang-orang dari berbagai penjuru.

Setelah itu, Nabi kembali bekerja sebagai penggembala dan juga mulai berdagang di Makkah. Karena sifat jujur dan amanahnya, beliau mendapat julukan Al-Amin (yang terpercaya). Saat Nabi berusia 20 tahun, ada seorang perempuan kaya bernama Khadijah yang memiliki banyak usaha dagang, namun tidak bisa menjalankannya sendiri. Khadijah mempercayakan perdagangan tersebut kepada Nabi Muhammad. Karena kejujuran dan amanah beliau, Nabi diberi kepercayaan membawa empat unta dagangan, sementara orang biasa hanya membawa dua. Nabi juga mendapat upah dari hasil kerja kerasnya tersebut.